Biaya rakit komputer

3

untuk merakit 1 unit komputer memerlukan perangkat-perangkat sebagai berikut.

AMD Athlor x2 4000 2,0gz Rp 600.000,-
HDD 160 Gz Rp 350.000,-
Ram 1 Gz Rp 165.000,-
Mather board Biostar Rp 380.000,-
VGA 512 (noshare) onboard Rp 250.000,-
cassing Simbada 400 watt Rp 200.000,-
Stavolt 500 va Rp 160.000,-
Keyboard + mose Rp 60.000,-
speker standart Rp 60.000,-
Monitor Samsung second Rp 350.000,-

ini nanti akan menjadi komputer yang mempunyai kualitas baik, sebanding dengan laptop mungkin...:-)...
ini bisa digunakan untuk progamer, game, internet dll.

(didapatkan dari pengalaman dan tanya kepada perakit komputer)

Alasan Membeli laptop atau komputer

2

Alasan membeli leptop
1. Menggunakan laptop lebih praktis dari pada komputer. Berat dan bentuk laptop yang menimalis menjadikan seorang yang memilikinya mudah untuk dibawa kemana-mana. Pada saat rapat, kegiatan rutinitas dikampus ataupun kegiatan lainnya laptop sangat membantu sekali.
2.Walaupun harga laptop lebih mahal dari pada Komputer, harganya sebanding dengan kecepatannya. Pada komputer cenderung lambat dalam prosesnya, walupun itu tergantung spacknya. Tapi dalam hal kecepatan laptop tetap handal menurut saya.
3.Kibord dari laptop berbeda dari computer. Kiboard laptop sangat enak sekali dipakai dalam pengetikan. Hal ini menjadikan tidak gampang capek ketika mengetik.
4.Ada fasilitas kameranya, dapat digunakan untuk memotret.
5.Hemat listrik
Alasan membeli computer
1.Kekurangan biaya. Dalam artian membeli komputer lebih murah dari pada membeli laptop. Membeli computer 2 atau 3 x lebih murah dari pada laptop. Jika membeli 1 unit computer baru mungkin sekitar 3.5 juta sudah mendapatkankomputer dengan kualitas yang bagus serta spesifikasi yang tinggi pula. Namun kalau membeli laptop membutuhkan 6-8 juta/ unit.
2.Tidak rentan rusak. Komputer memilki kelebihan tahan rusak jika dibandingkan dengan laptop.
3.Bisa digunakan untuk bermain game, namun tergantung spesifikasinya.

Menanam Pohon Kebaikan

3

Ada sebuah crita, seseorang bernama badu yang baik hati. Ia duduk dibangku sekolah dasar disebuah pedesaan yang cuku kecil. Badu mempunyai hobi menanam pohon. Ia selalu mencari dan mencari bibit tanaman dikebun liar untuk ditanam dipekarangan rumahnya. Entah pohon jambu, mangga taupun rambutan. Dia mempunyai tekat untuk terus menanam dan terus menanam. Dia rajin merawatnya, dengan cara memberikan air pada tanaman-tanaman yang telah ia tanam. Namun dari sekian tanaman yang ia rawat, ada pula yang mati. Badu mulai berpikir bahwa ia harus lebih banyak lagi menanam tanaman-tanaman jenis lainya ataupun tanaman yang sejenis . Maka dia berkesimpulan, jika ada yang mati tanaman lainnya masih ada yang hidup, dan siap menggantikan tanaman yang telah mati.

Alhamdulillah beberapa tahun kemudian semua tanaman yang telah ia rawat telah berbuah. Pohon jambu mulai mengeluarkan buahnya, begitu pula dengan tanaman buah yang lain. Sungguh kebahagiaan tersendiri dalam hati kecil badu ketika melihat jerih payahnya selama bertahun-tahun telah mendapatkan hasil.

Belum cukup puas dengan hasilnya, maka badu meminta izin untuk menanam tanaman yang sama disekitar pekarangan tetangganya. Dan ketika tanaman-tanaman yang telah ia rawat dipekarangan tetangganya mulai menghasilkan buah, maka ia pun merasakan apa yang telah dia tanam dipekarangan tetangganya. Tetangga-tetangganya selalu mengatakan “ inilah hasil dari apa yang telah kau kerjakan nak…”

Dari ilustrasi diatas dapat dikatakan bahwa alam telah sekian lama mengajarkan pada manusia, apapun yang kita tanam, benih apapaun itu pasti akan tumbuh sesuai dengan benihnya. Pohon mangga akan selalu menghasilkan buah mangga, begitu pula dengan pohon yang lainya. Tak pernah jika kita menanam rambutan hasilnya buah nagka. Si badu hanya menanam tanaman yang ia anggap suka, tatapi kemudian dia bisa menikmati terus-menerus bahkan mungkin tak terbilang jumlahnya.

Alampun memberikan hikmah, siapapun manusia yang menebar benih dan menanam pohon kebaikan , maka kelak ia akan menuai teramat banyak kebaikan, meski hanya satu tanaman yang kita tanam. Dan ketika seorang badu yang juga menanam pohon dirumah orang lain, maka mereka akan menikmati kebaikan itu. Sebaliknya, jika yang ditebar adalah benihkejahatan, pada waktunya nanti pasti kejahatan yang telah ditanam akan mengeluarkan hasilnya.

Nuun walqolami wamaa yasturuun

Tumbuhan Dan Hewan

0

Ada yang berjalan dengan perut, ada pula dengan kaki, baik empat ataupun dua. Ada yang cara melindungi dirinya dari serangan musuh dengan menggunakan kaki, tanduk ataupun yang lainnya. Contohnya seperti harimau, hewan ini menggunakan cakar yang ada dikakinya sebagai senjata pelengkap dalam menerkam lawannya. Setiap hewan selalu dibekali oleh Sang Pencipta dengan aksesoris kelengkapannya. Hal ini adalah kekuatan bagi hewan untuk melangsungkan kehidupan dibumi.

didalam Al-Quran Allah mengingatkan pada kita bahwa manusia harus selalu berfikir dan merenung tentang apa yang telah Ia ciptakan. Dalam QS. Yunus 101 Allah berfirman :

“ katakanlah, Perhatikan apa yang ada dilangit dan dibumi “

Kemudian dalam ayat yang lain Allah berfirman seperti yang telah dituliskan dalam QS. Ali-imran : 190 yang artinya :

“ Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya mlam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal”

Dan dalam QS. Al-ghosiah 17-20 Allah berfirman lebih spesifika tentang hewan yang telah Ia ciptakan, sebagai contohnya unta. Bunyi ayat tersebut adalah sebagai berikut :

“Maka apakah mereka tidak memperhatikan unta bagaimana ia diciptakan? Dan langit, bagaimana ia ditinggikan. Dan gunung-gunung ia ditegakkan. Dan bimi bagaimana ia dihamparka”

Dalam ayat-ayat diatas adalah tanda bagaimana Allah menciptakan apa yang telah Ia ciptkan sebagai bahan renungan bagi manusia dibumi ini. Sesungguhnya ayat –ayat Allah yang berada dalam Al-Quran sanga komprehensif tentang semua yang ada dalam bumi ini. Dalam QS. Al-An’am : 95-99 Allah menunjukkan kuasanya terhadap tumbuhan, air, dan alam raya ini sebagaimana yang artinya sebagai berikut :

“Sesungguhnya Allah menumbuhkan butir tumbuh-tumbuhan dan biji buah buahan. Dia mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup. Yang memiliki sifat demikian ialah Allah, maka mengapa kamu amsih berpaling. Dia menyingsingkan pagi dan menjadikan malam untuk beristirahat, dan menjadikan matahari dan bulan untuk perhitungan. Itulah ketentuan Allah yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui. Dan Dialah yang menjadika bintang-bintang bagimu, agar kamu menjadikan petunjuk dalam kegelapan didarat dan dilaut. Sesungguhnya Kami telah menjelaskan tanda-tanda kebesaran (Kami) kepada orang-orang yang mengetahui. Dan Dia yang menciptakan kamu dari seorang diri, maka bagimu ada tempat tetap dan tempat simpanan. Sesungguhnya telah Kami jelaskan tanda-tanda kebesaran (Kami) kepada orang-orang yang mengetahui. Dan Dialah yang menciptakan kamu dari seorang diri, maka (bagimu) ada tempat tetap dan tempat simpanan. Sesungguhnya telah Kami jelaskan tanda-tanda kebesaran Kami kepada orang-orang yang mengetahui. Dan Dialah yang menurunkan air hujan dari langit lalu kami tumbuhkan dengan air itu segala macam tumbuh-tumbuhan, maka Kami keluarkan dari tumbuh tumbuhan itu tanaman yang menghijau. Kami keluarkan dari tanaman yang menghijau itu butir yang banyak; dan dari mayang korma mengurai tangkai-tangkai yang menjulai, dan kebun-kebun anggur, dan (kami keluarkan pula) zaitun dan delima yang serupa dan tidak serupa. Perhatikanlah buahnya di waktu pohonnya berbuah, dan (perhatikan pulalah) kematangannya. Sesungguhnya pada yang demikian itu ada tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang beriman.” (al-An'aam: 95-99)

Sungguh amat luas ilmu Allah yang belum kita ketahui, ayat-ayat diatas adalah sebuah bukti nyata bahwa kita ini terlalu naif untuk mengatakan bahwa kita mempunyai ilmu yang banyak.

Nuun walqolami wamaa yasturuun

Pohon Kurma

0

Dari Abdullah Ibnu Umar RA bahwa Rasulullah SAW bersabda “ sesungguhnya dari berbagai macam poon, ada satu pohon yang tak satupun dedaunnya jatuh dari dahannya, dan itulah perumpamaan seorang muslim”, para sahabat berkata, kabarkan pada kami tentang pohon itu wahai Rasul”. Rasulullah SAW menjawab :”adalah kurma”. (HR.Bulhori & Muslim).

Diantara berbagai kesatuan sifat yang dimiliki oleh seorang muslim dengan pohon kurma adalah sebagai berikut:

1. Bahwa segala sesuatu yang ada pada sebatang pohon kurma mendatangkan manfaat, buahnya bermanfaat,dahannya,daunya,akar dan batangnya, dan biji yang terdapat dalam buahnyapun bermanfaat.

Demikianlah seharusnya seorang muslim, memberikan manfaat bukan mendatangkan mara bahaya, mempersatukan bukan memecahbelah, membuat kemaslahatan bukan malah merusak, semangat membangun bukan malah meleburkan, memakmurkan bukan menghancurkan, dan tidaklah berbicara kecuali mengandung makna. Jika berbuat amala amalnya adalah amal sholehh. Jika diam, diamnya adalah menghindari hal-ha yang sia-sia.

2. Pohon kurma tidak henti-hentinya memberikan manfaat, baik ketika hidup ataupun setelah ditebang. Saat hidup, keberadaannya memberikan keuntungan pada manusia, dengan mengonsumsi buahnya dapat menambah kekuatan tubuh dan mencegah berbagai penyakit. Daunnya yang lebar dan kokoh dulu kerap menjadi pelapis stsp rumah mencegah kebocoran disaat hujan dan panas terik disaat kemarau panjang. kerindangannya memberikan keteduhan disaat beristirahat dibawah bayang-bayangnya.

Demkian dengan seorang muslim, segala sesuatu yang ada pada dirinya dapat memberikan manfaat yang optimal untuk yang lainnya, sehingga akan menjadi kebaikan dan berkah disaat hidup ataupun matinya. Dalam hidupnya, dia senantiasa memberikan lebih banyak untuk kepentingan social daripada mengambil untuk dirinya sendiri. Kemudian dia lebih mementingkan kewajiban dari pad a menuntut hak. Dia selalu bergerak dengan hati yang ikhlas untuk kemaslahatan bersama.

3. Adapun ketika ia telah mati, dikala jasdnya telah menyatu denga tanah, ruhnyakembali pada keharibanNya, dia meinggalkan sebuah sejarah hidup mulia, menyelamtakan kenangan-kenangan yang baik, petunjuk dan nasehat yang penuh hiknat, mewarisi ilmu yang bermanfaat, dan amalan-amalan yang terpuji. Senagaimana sebuah hadis “ jika mati bani adam, maka terputuslah semua amalanya keuali tiga hal: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfat atau anak salih yang tidak putus-putusnya mendoakan orang tuanya”.

4. Pohon kurma melambangkan kekokohan dan kelurusan. Tersimpan dalam kekauatan soliditas. Buahnya bermanfaat bagi orang banyak. Dan durinya menjadi perisai, melumpuhkan mangsanya.
Demikianlah seyogjanya seorang muslim, kuat memegang prinsip beregamanya, tetap menjaga teguhnya aqidah dqn keyakinannya, selau menjadi insan yang bersukur dikala dianugrahi nikmat dan sbar ketika mendapatkan ujian.

Inilah diantara karakter serang muslim yang termaktup dari pohon kurma. Semoga apa yang menjadi gambaran Rasulullah dapat kita pegang dan dapat kita ingat bahw akiat harus menjadi pohon korma yang berkualitas.

Nuun walqolami wamaayasturuun

Berkaca Pada Alam

0

ika kita perhatikan batu-batu yang bertengger dipinggiran sungai, terkadang kuyup oleh sentuhan genit air-air sungai yang menghampiri walaupun mereka terus berjalan. Namun untuk beberapa lama batu-batu itu mengering oleh sinaran matahari yang menembus dari celah-celah dedaunan. Silih berganti air dan matahari menyapa bebatuan yang tak pernah bergeser dari tempatnya, sebelum perubahan alam atau tangan manusia yang menghendakinya berpindah. Kemudian jika terlihat satu sisi dari batu itu yang terus menerus lembab, yang kemudian lumut hijau nan cantik menghiasi seluruh sisi permukaan itu, artinya sinar matahari tak pernah singgah diatasnya. Batu, air sungai dan sinar matahari itu mengajarkan kepada kita tentang banyak hal. Kepasrahan batu-batu menerima air dan sinar matahari, adalah cermin keikhlasan. Dan keteguhannya untuk tetap ditempatnya, adalah kesabaran. Lumut hijau di sisi batu yang tak tersinari matahari adalah petunjuk arah jalan.

Mendakilah lebih tinggi, kita akan menemukan jenis tumbuhan, warna daun dan buah yang berbeda. Jalan semakin terjal dan sempit, hanya akar-akar besar dari pohon tua yang terkadang menjadi perantara menuju undakan berikutnya. Sesaat beristirahatlah dan perhatikan semuanya. Tumbuhan, daun dan buah dengan warna yang lebih mencolok dan lebih khas, mengajarkan kepada kita, bahwa Allah Maha Adil dengan menempatkan setiap makhluknya pada keadaan dan tempat dimana ia bisa beradaptasi dan hidup. Satu hal bagi manusia, teruslah bergerak mencari kehidupan, karena Allah akan senantiasa menuntun kita kepada tempat kehidupan terbaik. Namun jika pada akhirnya kita berhenti disatu tempat yang Allah kehendaki setelah semua usaha yang dilakukan, disitulah kita meletakkan prinsip qonaah dan sabar, serta bersyukur atas ketetapan Allah.

Saatnya senja menyambut hari. Sinar merah kekuningan yang menyejukkan masih bisa kita nikmati dari celah-celah ranting dan daun, sesekali ia seperti berkedip dan terus memandangi semua makhluk yang terus bergerak. Seperti mengikuti, matanya terus menatap dan mengawasi sementara sinarnya semakin lama semakin redup digantikan malam. Tinggallah menunggu rembulan. kemudian kita terus bergerak, mencari jalan dengan menggunakan mata bathin, penerangan hanya alat bantu karena sesungguhnya kita lebih mempercayai mata bathin dan kontak yang tak pernah putus dengan mata kaki. Senja hanya sesaat, namun kahadirannya begitu memukau dan terasa manfaatnya. Tidak hanya indah, senja senantiasa menebarkan pesona keanggunan kepada siapapun yang menatapnya. Kepada hidup, kepada makhluk dan kepada Allah, semestinya manusiapun seelok, sebermanfaat dan semenyenangkan senja. Karena mungkin, besok tak lagi tersedia waktu untuk melakukan semua itu.

Dan bila malam tiba, kabut pekat menutup jarak pandang kita, sementara angin kebekuan menyelimuti kulit tipis kita yang tak henti bergerak. Sejenak berhenti sesungguhnya hanya menambah tebal selimut kebekuan itu walaupun waktu yang sejenak itu untuk sekedar menyeruput air hangat dari tungku batu. Tak banyak yang bisa dilakukan, tak banyak pilihan selain terus bergerak keatas agar lebih cepat mendapati fajar. Ingin mata terpejam sekedar menghela nafas dan mengaturnya satu persatu agar tak saling menyusul, tapi kehendak kuat yang menggebu untuk segera tiba di puncak seolah tak bisa kompromi.

Rembulan hanya mengintip di kejauhan. Sedangkan kita terus bergerak, mencari jalan dengan menggunakan mata bathin, penerangan hanya alat bantu karena sesungguhnya kita lebih mempercayai mata bathin dan kontak yang tak pernah putus dengan mata kaki. Terkadang sering kita mendapat satu kondisi dimana tak lagi mempunyai pilihan untuk berbuat banyak, namun masih ada satu dalam dada ini yang masih kita percayai karena ianya tak pernah berdusta. Ialah mata hati dan nurani. Berhenti bukan jalan yang tepat apalagi kembali ke belakang, padahal jalan tinggal selangkah. Tanyalah pada hati, niscaya kebenaran yang kita dapat.

Dan pada akhirnya, setelah semua perjuangan, lelah, juga peluh yang hampir tak bedanya dengan embun dipucuk dahan, sebuah tanah mengering pada pijakan terakhir membuat nafas menjadi lega. Hilang semua lelah, lepas semua keputusasaan yang menghantui selama perjalanan, karena mentari pagi menyambut kehadiran kita di puncak perjalanan. Tersenyum adalah kepastian, kepuasan adalah kewajaran dikala seperti tak ada lagi jarak antara kita dengan Sang Pencipta dari puncak ini. Ingin rasanya berteriak meminta kepada-Nya, namun ditempat ini, berbisik pun Dia pasti mendengarnya, karena kita begitu dekat. Perjalanan takkan pernah berujung, namun sudah pasti ada masanya kita kan berhenti. Teruslah mendaki agar kita semakin dekat pada-Nya. Teruslah bergerak, namun jika telah sampai di puncak semua keinginan, jangan pernah lupa bahwa kita pernah dibawah, dan pasti akan kembali ke bawah. Esok atau nanti.

Nuun walqolami wamaayasturuun

Berani Menghadapi Tantangan

0

Ketika pasukan negara imperialis terbesar di dunia saat itu, Romawi Timur (Byzantium), kian mendekati Madinah, Rasulullah SAW memberangkatkan pasukan menghadangnya. Menjelang kawasan Mu'tah, tepatnya di Desa Mu'an, kaum Muslimin berhenti dua hari dua malam. Tanpa diduga, bersama aliansinya, seperti Bani Ghassan, Lakham, Juzam, dan lain-lain, Romawi menyiapkan lebih dari 200 ribu anggota pasukan bersenjata lengkap. Padahal, serdadu Islam hanya 3.000 orang.
Sebagian dari kaum Muslimin ingin mundur karena merasa mustahil menghadapi lawan. Yang lain, mau mengabari dulu Rasulullah SAW seraya meminta tambahan pasukan. Tiba-tiba, Abdullah bin Rawwahah angkat suara, ''Saudara-saudara sekalian, demi Allah sesungguhnya yang kalian benci itulah tujuan kalian kemari, yakni mati syahid. Kita berperang melawan musuh bukanlah karena senjata lengkap dan tentara yang banyak.

Melainkan, karena dengan agama ini Allah akan memuliakan kita. Karena itu, mari maju meraih salah satu dari dua kebaikan: kemenangan atau mati syahid.'' Kata-kata Abdullah menyadarkan semua pasukan. Musuh jangan dicari, tapi jika telah di depan mata, jangan sekali-kali lari. Akhirnya, pasukan Islam sukses memorak-morandakan Romawi. Gagallah maksud buruk mereka ingin memperluas jajahan, sekaligus merusak kemuliaan Islam. Barangkali, jika menunda menghadapi Romawi agar pasukan bertambah, belum tentu menang.

Keimanan dan disiplin beramal saleh dari Abdullah dan para sahabat Rasul membuat mereka berani menghadapi tantangan, walau ternyata lebih besar dari yang diduga. Sayangnya, kita tidak begitu. Ada kecenderungan suka lari dari masalah dan gemar menunda menyelesaikan tugas, jika dirasa masalahnya berat sekali. Dirasa susah sedikit, disikapi dengan dikerjakan belakangan. Itu pun menjelang batas akhir. Beberapa kebiasan buruk misalnya, siswa dan mahasiswa baru belajar keras menjelang ujian. Atau, para pembesar yang membiarkan masalah saat masih kecil, bahkan meremehkannya.

Namun, menjadi panik dan baru mencari pertolongan ke sana ke mari saat telah mepet, sementara energi dan dana sudah menipis. Akibatnya, kalaupun masalah terselesaikan, pengorbanannya begitu besar dibanding jika diselesaikan jauh-jauh hari sebelumnya. Mutu kerja merosot, sementara tugas dan urusan lain terbengkalai. Meningkatkan keimanan, jumlah, dan kualitas amal saleh akan membuat berani menghadapi masalah, meski lebih berat dari sangkaan. Bagaimanapun, jika sungguh-sungguh berikhtiar dan berdoa, setiap masalah teratasi. Tiada masalah kecuali sebatas kesanggupan manusia (QS 2:286). Lari atau menunda menghadapinya justru memperbesar masalah dan memperberat dampak buruknya.

Nun walqolami wamaa yasturuun

1000 alasan

0

1000 alasan

seiring dengan perkembangan zaman penguasaan teknologi harus dikuasai secara komprehensif. tantangan globalisasi menjadikan masyarakat semakin dituntut untuk lebih dalam semua hal, termasuk teknologi. dengan menguasai aplikom khususnya akedemis akan lebih mudah dalam melakukan kegiatan belajar. tapi yang paling penting adalah ketika ilmu aplikom telah dikuasai oleh masyarakat, nilai spiritual pribadi masing-masing harus naik/ tinggi seirng dengan ilmu yang lain. hal ini disebabkan adanya kekawatiran terhadap ilmu yang tidak diimbangi dengan nilai-nilai ukhrowi akan cenderung merusak. maka jika ilmu aplikom mencapai taraf komprehensif, ilmu spiritual dalam diri juga harus komprehensif, minimal mendekati.
sekarang dekadansi moral berlangsung dibanyak negara, termasuk Indonesia. perkembangan informasi dan teknologi yang tidak dibarengi dengan nilai spiritul hasilnya akan rusak dan hal ini telah menimpa kita semua. dalam sebuah lembaga surve, 60 % murid SD pernah melihat vcd porno..astagfirullah( diperoleh dari radio andika Fm Kediri). sekian pak trimaksih....jazakumullah

Pertanian, Kedamaian, hingga Cinta

0

Ada lebih banyak pergolakan yang dimotori para buruh ketimbang para
petani. Oleh karenanya sebagian besar revolusi tidak berasal dari para
petani. Mungkin tidak ada yang lebih bisa bertahan dari tirani selama
ribuan terakhir ini daripada para petani. Dan mungkin kita berhutang lebih
banyak lagi dari para petani.

Tidak tahu persisnya kapan orang beralih dari pekerjaannya dalam berburu
untuk berubah menjadi individu yang asik berinteraksi dengan alam. Mungkin
dilihatnya belukar dan tetumbuhan di sekitarnya itu bisa dinikmati oleh
hewan-hewan liar. Boleh hidup pula mereka. Sebuah alasan yang logik
sehingga orang mahu mencoba. Berburu itu letih, berpeluh, kasar, luka,
berdarah, dan membunuh. Sedang mencobai tetumbuhan itu lebih banyak
kedamaiannya. Cara hidup yang baru, Mode kerja baru. Yang baru itu selalu
menarik sehingga menimbulkan pertanyaan lagi; kapan bermula kebudayaan
agrikultur itu? Ini budaya telah melahirkan kita semua. Termasuk generasi
kita, saya sendiri dari keluarga petani. Sedang budaya yang lain itu buah
tuai-tanamnya para petani.

Bagaimana orang mengenal budaya religi? Ada kaitannya dengan pertanian
pula agaknya. Epik gilgamesh dan beberapa epos separuh manusia-separuh
dewa rata-rata muncul setelah manusia mengenal agrikultur. Sebabnya, orang
yang bertanam itu harus selalu berkompromi dengan alam. Dia harus mengerti
bagaimana menumbuhkan tanamannya, artinya harus mengerti pengairannya.
Namun jika pengetahuan masih terbatas, maka dia harus mengerti iklim dan
cuaca. Kemudian disesuaikanlah musin tanam itu dengan musim cuaca. Tetapi
pengetahuan itu tidak serta-merta diddapatkan. Ada selang waktu lama
sebelum manusia memahami. Dan pada waktu itu, orang mengandalkan berkah
alam. Mereka yang tinggal di tepi sungai tentu lebih beruntung. Mulai
dikenal pula hewan-hewan yang produktif untuk mendukung kebudayaan mereka.
Maka dari itu mereka bersukur. Menengadah ke birunya langit dan menunduk
ke arah lumpur subur seraya berpikir bagaimana mereka harus membalas
keberkatan itu. maka dari lembah nil, muncul Isis. ibu yang memberikan
mereka kehidupan. Disembah dan dipuja dengan semakin rumit sehingga
terbentuk sistem religi. Ini tidak terjadi dalam peristiwa tunggal,
melainkan serentak di setiap peradaban yang mengenal agrikultur.

Kalau orang telah bercocok tanam, kemudian panen, maka jika beruntung ada
sisa dari hasil itu untuk disimpan. Simpan menyimpan itu hakikatnya adalah
menumpuk kekayaan. Dan jika sudah ada ukuran kekayaan, perasaan iri bisa
muncul. Iri melahirkan kejahatan. Dalam keyakinan lain, tindakan kriminal
pertama juga terkait dengan persembahan ternak dan pertanian dari abel dan
saudaranya. Maka dari itu harus dijaga, sehingga periode damai tanpa darah
dan senjata daripada pertanian itu diakhiri dengan penggunaan senjata lagi
untuk menjaga dan mengumpulkan kekayaan. Pada perkembangannya, orang juga
tidak boleh tiba-tiba ditikam dari belakang, lalu muncul jenis
perlindungan lainnya. Hingga berproses perlindungan-perlindungan itu
selama ribuan tahun lamanya sampai diketemukan oleh manusia sebuah lembaga
yang mereka namakan sebagai negara. Kesimpulannya, kebudayaan pertanian
itu lah rahim daripada negara.

Lalu, jika pertanyaannya mengapa dunia penuh dengan kekerasan dan genangan
darah itu dipantulkan ke langit, memerah? Tidak lagi berkaitan dengan
kedamaian budaya bertani karena pertanian masih tetap hidup dalam
kedamaiannya sendiri. Sedang persaingan antar keyakinan, tamak kekayaan,
dan negara-negara lah pelakunya. Tiga turunan budaya pertanian memenuhi
bumi dengan permusuhan. Dan akhirnya meninggalkan para petani sebagai
cibiran, sebagai manusia rendah dengan kehidupan yang miskin,
terpinggirkan dari kota, dan tidak lagi diingat jasanya.

Buktinya para petani tidak pernah bereaksi. Karena mereka cinta tanah,
mereka cinta langit, dan cinta sesama. Jikalau ada pergerakan itu adalah
mobilisasi para politisi yang hendak mempergunakan kepentingan para petani
untuk mencapai cita-cita politiknya. Mana ada petani yang rela
meninggalkan kesayangannya bertanam untuk digantikan dengan kekacauan?

Hidup dengan bertani itu juga sebagai sarana untuk membatasi diri dari
ketamakan. Karena ninik mamak kita yang bercocok tanam memenuhi
kebutuhannya sendiri dengan tidak berharap banyak kecuali tanah-air dan
perdamaian. Suasana nya dijaga tetap harmonis, dan ritme hidupnya sesuai
dengan alamnya; pelan bersabar, terlebih menunggu musim berganti, menunggu
panen pun dengan kesabaran. Begitu cintanya akan tanah-air (dua elemen
penting untuk menumbuhkan tanaman), disebutnya bumi ini ibu pertiwi.
Karena bumi juga asih pada mereka, sedang yang paling asih itu adalah
seorang ibu. Yang lembut dan memeluk. Oleh karenanya jika hendak
menjadikan suatu masyarakat penuh damai, ada baiknya menjadikan lebih
banyak lahan pertanian. Pemerintahan Federal Amerika menyadari budaya
damai para petani itu. Jadi saat suku Apache sulit untuk dikendalikan,
mereka meminta Geronimo dan Apache lainnya untuk bercocok tanam saja demi
kedamaian bersama.

Dengan bumi itu akan selalu terasa hangat seperti dengan ibu sendiri.
Seperti kehangatan yang kita rasakan saat merebahkan diri di tanah,
merayap memeluk bumi. Orang jawa yang bercocok tanam itu punya negara.
Maka negara itu disebut pula dengan nama Mataram (baik Mataram Kuno mau
pun Mataram Islam). Sanskrit dari rumpun indo eropa, Mataram adalah Mater,
die műter di Germania atau mother di Anglia. Ibu kita harus dibela dari
hal-hal yang merusak kedamaian. Maka di Jogjakarta ada Siti Hinggil,
dihormati tanah itu harus ditempat yang tinggi dengan segala sikap
feminisnya. Kalau kepercayaan Mesir ada bersama Isis, maka kita kenal Dewi
Sri di sini. Dan harus seorang Ibu, karena Bapa acap kali bertindak keras.

Tidak ada cinta selain melalui kedamaian hati. Bila sudah damai, cinta
sesama itu semakin mudah dilakukan. Dan jika lebih mengerti lagi mengapa
kita saling menyakiti hanya karena keyakinan, ketamakan, mau pun karena
negara maka kita akan lebih mengerti bagaimana kita bisa merubah semuanya.
Tidak mudah memang tapi pernah dicoba. Sebetulnya mereka mau saja bertahan
hidup dalam tirani. Seperti yang dilakukan para petani di Chiapas.
Bukankah mereka telah hidup damai meski ditindas oleh pemerintahan PRI
Mexico? Tapi apa hendak dikata. Politisi selalu saja memainkan semua yang
menarik. Saat Carlos Salinas mengamandemen pasal 27 dalam UUD 1917 Mexico
yang menjamin keberadaan ejido atau tanah komunal masyarakat adat yang
tidak bisa diganggu gugat, campesinos (petani tradisional) bergerak dalam
mobilisasi Zapatista.

Kini petani dengan keyakinan dan ketamakan dan negara telah melebur dalam
kekerasan satu sama lainnya. Dengan menghela nafas, saya hanya berpikir
mungkin Zapatista lupa akan karakter para petani sesunggunya yang bisa
hidup damai dalam penindasan. Karena dengan cinta semuanya terlihat indah.
Tanpa cinta, kita melihat kehidupan lain sebagai keindahan. Padahal
sejatinya keindahan itu ada dalam diri sendiri, tidak perlu dicari lagi.
"keindahan adalah kehidupan itu sendiri - saat membuka tabir penutup
wajahnya. Dan kalian sejatinya adalah kehidupan itu, kalianlah cadar itu.
Keindahan adalah keabadian yang termangu di depan cermin. Dan kalian
sejatinya adalah keabadian itu, kalianlah cermin itu." Hanya kita tidak
menyadari.

Pembentukan Hujan

0

Proses terbentuknya hujan masih merupakan misteri besar bagi orang-orang dalam waktu yang lama. Baru setelah radar cuaca ditemukan, bisa didapatkan tahap-tahap pembentukan hujan.

Pembentukan hujan berlangsung dalam tiga tahap. Pertama, "bahan baku" hujan naik ke udara, lalu awan terbentuk. Akhirnya, curahan hujan terlihat.

Tahap-tahap ini ditetapkan dengan jelas dalam Al-Qur’an berabad-abad yang lalu, yang memberikan informasi yang tepat mengenai pembentukan hujan, "Dialah Allah Yang mengirimkan angin, lalu angin itu menggerakkan awan dan Allah membentangkannya di langit menurut yang dikehendakiNya, dan menjadikannya bergumpal-gumpal; lalu kamu lihat air hujan keluar dari celah-celahnya; maka, apabila hujan itu turun mengenai hamba-hambaNya yang dikehendakiNya, tiba-tiba mereka menjadi gembira" (Al Qur'an, 30:48)

Gambar di samping memperlihatkan butiran-butiran air yang lepas ke udara. Ini adalah tahap pertama dalam proses pembentukan hujan. Setelah itu, butiran-butiran air dalam awan yang baru saja terbentuk akan melayang di udara untuk kemudian menebal, menjadi jenuh, dan turun sebagai hujan. Seluruh tahapan ini disebutkan dalam Al Qur'an.

Kini, mari kita amati tiga tahap yang disebutkan dalam ayat ini.

TAHAP KE-1: "Dialah Allah Yang mengirimkan angin..."

Gelembung-gelembung udara yang jumlahnya tak terhitung yang dibentuk dengan pembuihan di lautan, pecah terus-menerus dan menyebabkan partikel-partikel air tersembur menuju langit. Partikel-partikel ini, yang kaya akan garam, lalu diangkut oleh angin dan bergerak ke atas di atmosfir. Partikel-partikel ini, yang disebut aerosol, membentuk awan dengan mengumpulkan uap air di sekelilingnya, yang naik lagi dari laut, sebagai titik-titik kecil dengan mekanisme yang disebut "perangkap air".

TAHAP KE-2: “...lalu angin itu menggerakkan awan dan Allah membentangkannya di langit menurut yang dikehendaki-Nya, dan menjadikannya bergumpal-gumpal..."

Awan-awan terbentuk dari uap air yang mengembun di sekeliling butir-butir garam atau partikel-partikel debu di udara. Karena air hujan dalam hal ini sangat kecil (dengan diameter antara 0,01 dan 0,02 mm), awan-awan itu bergantungan di udara dan terbentang di langit. Jadi, langit ditutupi dengan awan-awan.

TAHAP KE-3: "...lalu kamu lihat air hujan keluar dari celah-celahnya..."

Partikel-partikel air yang mengelilingi butir-butir garam dan partikel-partikel debu itu mengental dan membentuk air hujan. Jadi, air hujan ini, yang menjadi lebih berat daripada udara, bertolak dari awan dan mulai jatuh ke tanah sebagai hujan.

Semua tahap pembentukan hujan telah diceritakan dalam ayat-ayat Al-Qur’an. Selain itu, tahap-tahap ini dijelaskan dengan urutan yang benar. Sebagaimana fenomena-fenomena alam lain di bumi, lagi-lagi Al-Qur’anlah yang menyediakan penjelasan yang paling benar mengenai fenomena ini dan juga telah mengumumkan fakta-fakta ini kepada orang-orang pada ribuan tahun sebelum ditemukan oleh ilmu pengetahuan.

Dalam sebuah ayat, informasi tentang proses pembentukan hujan dijelaskan:

"Tidaklah kamu melihat bahwa Allah mengarak awan, kemudian mengumpulkan antara (bagian-bagian)nya, kemudian menjadikannya bertindih-tindih, maka kelihatanlah olehmu hujan keluar dari celah-celahnya dan Allah (juga) menurunkan (butiran-butiran) es dari langit, (yaitu) dari (gumpalan- gumpalan awan seperti) gunung-gunung, maka ditimpakan-Nya (butiran-butiran) es itu kepada siapa yang dikehendaki-Nya dan dipalingkan-Nya dari siapa yang dikehendaki-Nya. Kilauan kilat awan itu hampir-hampir menghilangkan penglihatan." (Al Qur'an, 24:43)

Para ilmuwan yang mempelajari jenis-jenis awan mendapatkan temuan yang mengejutkan berkenaan dengan proses pembentukan awan hujan. Terbentuknya awan hujan yang mengambil bentuk tertentu, terjadi melalui sistem dan tahapan tertentu pula. Tahap-tahap pembentukan kumulonimbus, sejenis awan hujan, adalah sebagai berikut:

TAHAP - 1, Pergerakan awan oleh angin: Awan-awan dibawa, dengan kata lain, ditiup oleh angin.

TAHAP - 2, Pembentukan awan yang lebih besar: Kemudian awan-awan kecil (awan kumulus) yang digerakkan angin, saling bergabung dan membentuk awan yang lebih besar.

TAHAP - 3, Pembentukan awan yang bertumpang tindih: Ketika awan-awan kecil saling bertemu dan bergabung membentuk awan yang lebih besar, gerakan udara vertikal ke atas terjadi di dalamnya meningkat. Gerakan udara vertikal ini lebih kuat di bagian tengah dibandingkan di bagian tepinya. Gerakan udara ini menyebabkan gumpalan awan tumbuh membesar secara vertikal, sehingga menyebabkan awan saling bertindih-tindih. Membesarnya awan secara vertikal ini menyebabkan gumpalan besar awan tersebut mencapai wilayah-wilayah atmosfir yang bersuhu lebih dingin, di mana butiran-butiran air dan es mulai terbentuk dan tumbuh semakin membesar. Ketika butiran air dan es ini telah menjadi berat sehingga tak lagi mampu ditopang oleh hembusan angin vertikal, mereka mulai lepas dari awan dan jatuh ke bawah sebagai hujan air, hujan es, dsb. (Anthes, Richard A.; John J. Cahir; Alistair B. Fraser; and Hans A. Panofsky, 1981, The Atmosphere, s. 269; Millers, Albert; and Jack C. Thompson, 1975, Elements of Meteorology, s. 141-142)

Kita harus ingat bahwa para ahli meteorologi hanya baru-baru ini saja mengetahui proses pembentukan awan hujan ini secara rinci, beserta bentuk dan fungsinya, dengan menggunakan peralatan mutakhir seperti pesawat terbang, satelit, komputer, dsb. Sungguh jelas bahwa Allah telah memberitahu kita suatu informasi yang tak mungkin dapat diketahui 1400 tahun yang lalu.

Kadar Hujan

0

Fakta lain yang diberikan dalam Al Qur’an mengenai hujan adalah bahwa hujan diturunkan ke bumi dalam kadar tertentu. Hal ini disebutkan dalam Surat Az Zukhruf sebagai berikut;

"Dan Yang menurunkan air dari langit menurut kadar (yang diperlukan) lalu Kami hidupkan dengan air itu negeri yang mati, seperti itulah kamu akan dikeluarkan (dari dalam kubur)." (Al Qur'an, 43:11)

Kadar dalam hujan ini pun sekali lagi telah ditemukan melalui penelitian modern. Diperkirakan dalam satu detik, sekitar 16 juta ton air menguap dari bumi. Angka ini menghasilkan 513 trilyun ton air per tahun. Angka ini ternyata sama dengan jumlah hujan yang jatuh ke bumi dalam satu tahun. Hal ini berarti air senantiasa berputar dalam suatu siklus yang seimbang menurut "ukuran atau kadar" tertentu. Kehidupan di bumi bergantung pada siklus air ini. Bahkan sekalipun manusia menggunakan semua teknologi yang ada di dunia ini, mereka tidak akan mampu membuat siklus seperti ini.






Per tahunnya, air hujan yang menguap dan turun kembali ke Bumi dalam bentuk hujan berjumlah "tetap": yakni 513 triliun ton. Jumlah yang tetap ini dinyatakan dalam Al Qur'an dengan menggunakan istilah "menurunkan air dari langit menurut kadar". Tetapnya jumlah ini sangatlah penting bagi keberlangsungan keseimbangan ekologi dan, tentu saja, kelangsungan kehidupan ini.

Bahkan satu penyimpangan kecil saja dari jumlah ini akan segera mengakibatkan ketidakseimbangan ekologi yang mampu mengakhiri kehidupan di bumi. Namun, hal ini tidak pernah terjadi dan hujan senantiasa turun setiap tahun dalam jumlah yang benar-benar sama seperti dinyatakan dalam Al Qur’an.

Fungsi Gunung

0

Dengan perpanjangannya yang menghujam jauh ke dalam maupun ke atas permukaan bumi, gunung-gunung menggenggam lempengan-lempengan kerak bumi yang berbeda, layaknya pasak. Kerak bumi terdiri atas lempengan-lempengan yang senantiasa dalam keadaan bergerak. Fungsi pasak dari gunung ini mencegah guncangan dengan cara memancangkan kerak bumi yang memiliki struktur sangat mudah bergerak.

Al Qur’an mengarahkan perhatian kita pada fungsi geologis penting dari gunung.

"Dan telah Kami jadikan di bumi ini gunung-gunung yang kokoh supaya bumi itu (tidak) goncang bersama mereka..." (Al Qur'an, 21:31)

Sebagaimana terlihat, dinyatakan dalam ayat tersebut bahwa gunung-gunung berfungsi mencegah goncangan di permukaan bumi.

Kenyataan ini tidaklah diketahui oleh siapapun di masa ketika Al Qur’an diturunkan. Nyatanya, hal ini baru saja terungkap sebagai hasil penemuan geologi modern.

Menurut penemuan ini, gunung-gunung muncul sebagai hasil pergerakan dan tumbukan dari lempengan-lempengan raksasa yang membentuk kerak bumi. Ketika dua lempengan bertumbukan, lempengan yang lebih kuat menyelip di bawah lempengan yang satunya, sementara yang di atas melipat dan membentuk dataran tinggi dan gunung. Lapisan bawah bergerak di bawah permukaan dan membentuk perpanjangan yang dalam ke bawah. Ini berarti gunung mempunyai bagian yang menghujam jauh ke bawah yang tak kalah besarnya dengan yang tampak di permukaan bumi.

Dalam tulisan ilmiah, struktur gunung digambarkan sebagai berikut:

Pada bagian benua yang lebih tebal, seperti pada jajaran pegunungan, kerak bumi akan terbenam lebih dalam ke dalam lapisan magma. (General Science, Carolyn Sheets, Robert Gardner, Samuel F. Howe; Allyn and Bacon Inc. Newton, Massachusetts, 1985, s. 305)

Dalam sebuah ayat, peran gunung seperti ini diungkapkan melalui sebuah perumpamaan sebagai "pasak":

"Bukankah Kami telah menjadikan bumi itu sebagai hamparan?, dan gunung-gunung sebagai pasak?" (Al Qur'an, 78:6-7)

Dengan kata lain, gunung-gunung menggenggam lempengan-lempengan kerak bumi dengan memanjang ke atas dan ke bawah permukaan bumi pada titik-titik pertemuan lempengan-lempengan ini. Dengan cara ini, mereka memancangkan kerak bumi dan mencegahnya dari terombang-ambing di atas lapisan magma atau di antara lempengan-lempengannya. Singkatnya, kita dapat menyamakan gunung dengan paku yang menjadikan lembaran-lembaran kayu tetap menyatu.

Fungsi pemancangan dari gunung dijelaskan dalam tulisan ilmiah dengan istilah "isostasi". Isostasi bermakna sebagai berikut:

Isostasi: kesetimbangan dalam kerak bumi yang terjaga oleh aliran materi bebatuan di bawah permukaan akibat tekanan gravitasi. (Webster's New Twentieth Century Dictionary, 2nd. edition "Isostasy", New York, s. 975)

Peran penting gunung yang ditemukan oleh ilmu geologi modern dan penelitian gempa, telah dinyatakan dalam Al Qur’an berabad-abad lampau sebagai suatu bukti Hikmah Maha Agung dalam ciptaan Allah.

"Dan telah Kami jadikan di bumi ini gunung-gunung yang kokoh supaya bumi itu (tidak) goncang bersama mereka..." (Al Qur'an, 21:31)

Harmoni Qur'an dan Sains

0

Berbicara tentang sains dan hubungannya yang harmonis dan tanpa pertentangan terhadap Al Qur'an masih merupakan sesuatu yang paradoks di dalam masyarakat kita. Invasi pemikiran yang berlandaskan sekularisme yang menjalar dengan pasti dan tanpa terasa (baca: ghazwul fikri) telah menciptakan suatu fenomena dimana banyak orang terjebak dalam suatu dikotomi pemikiran terhadap al-qur'an dan sains.

Tanpa disadari, banyak orang yang menganggap bahwa al-qur'an dan sains merupakan hal yang terpisah. Sudah selayaknya kita sebagai kaum intelektual muslim meluruskan penyimpangan pemikiran semacam ini dan menanamkan kembali pemahaman bahwa al-qur'an dan sains merupakan suatu hubungan yang harmonis. Tidak satu pun ayat-ayat al-qur'an yang bertentangan dengan kemajuan sains dan teknologi, bahkan banyak fenomena kemajuan sains dan teknologi yang termaktub di dalam al-qur'an.

Hanya sayangnya, fenomena-fenomena sains dan teknologi yang terdapat di dalam al-qur'an diteliti dan dikembangkan bukan oleh ummat Islam sebagai pemilik kitab tersebut tetapi oleh orang-orang non muslim yang bisa dikatakan 'jauh' darinya. Dan hal inilah yang menyebabkan kemunduran ummat Islam dalam bidang sains dan teknologi setelah sempat mengalami puncak keemasan pada sekitar abad ke-12.

Di dalam kitabnya Jawahir Al-Qur'an, Imam Al-Ghazali membahas dalam bab khusus bahwa Al-Qur'an merupakan sumber dari seluruh cabang ilmu pengetahuan, baik yang terdahulu maupun yang akan datang dan yang telah diketahui maupun yang belum diketahui. Hal ini bukanlah sesuatu yang terlalu berlebihan, karena telah banyak bukti yang mengarah kepada hal tersebut. Berikut ini akan dicontohkan segelintir fenomena sains dan teknologi yang terdapat di dalam al-qur'an, dari berbagi bidang ilmu:

Teorema Singularitas

Teori yang melambungkan nama Stephen Hawking, seorang fisikawan teoritik Inggris, dan Roger Penrose, seorang matematikawan Inggris pada pertengahan1960-an ini menjelaskan tentang permulaan alam semesta. Dalam teori singularitas tentang permulaan alam semesta disimpulkan bahwa ada suatu keadaan dimana jarak ruang-waktu antara semua benda yang ada di jagat raya ini sama dengan nol, dan keadaan ini berlangsung sebelum terjadinya dentuman besar (big bang). Eksistensi keadaan singularitas sebagai awal dari alam semesta ini telah difirmankan oleh Allah SWT dalam al-qur'an surah Al-Anbiya 30:

"Dan apakah orang-orang kafir itu tidak mengetahui bahwasannya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya..."

Tak ada yang dapat mengetahui apa yang terjadi sebelum terjadinya big bang (kecuali Allah rab al-'alamin), karena pada saat itu seluruh semesta ini merupakan suatu yang padu dimana tidak ada ruang dan waktu, dan hukum-hukum fisika serta persamaan matematika tidak berlaku.

Lebah Sebagai Pelacak Bahan Peledak

"... Dari perut lebah itu keluar minuman yang bermacam-macam warnanya (madu), di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Allah) bagi orang-orang yang memikirkan."

Dari potongan ayat diatas kita bisa melihat dan menganalisa tentang tanda yang diberikan oleh Allah tentang keistimewaan salah satu makhluk-Nya yang bernama lebah. Selain memiliki peranan sebagai penghasil madu yang sangat bermanfaat bagi kesehatan, makhluk Allah ini juga ternyata memiliki keistimewaan lain yang sangat bermanfaat bagi manusia, yaitu sebagai pelacak bahan peledak.

Para peneliti Amerika Serikat, sebagaimana yang dilaporkan oleh Beyond 2000, telah menemukan fenomena yang menunjukkan bahwa lebah sangat membantu dalam upaya deteksi ranjau atau bahan peledak lainnya. Dengan kemampuan yang dimiliki lebah untuk memperoleh simulasi terhadap bahan kimia tertentu dan mencari bahan kimia yang sama tersebut dimana pun ia berada, dapat digunakan untuk membantu petugas keamanan dalam mencari tempat-tempat yang dipasang bahan peledak. Tentu saja bahan kimia yang digunakan untuk simulasi tersebut adalah TNT. Metoda penemuan yang aman dan murah ini telah dirancang oleh Sandia National Laboratories bekerjasama dengan Universitas Montana, AS.

Sekali lagi ummat Islam 'kecolongan' dalam penemuan sains, padahal Allah telah mengindikasikan hal ini dalam surat An-Nahl. Allah SWT juga telah mengistimewakan makhlukNya ini dengan menjadikannya sebagai nama salah satu surat di dalam Al Qur'an, yaitu An-Nahl yang berarti lebah.

Astronomi

Di dalam Al Qur'an terdapat banyak ayat yang membicarakan tentang astronomi. Dr. Maurice Buccaile -dalam bukunya Al Qur'an, Bible dan sains modern- menyebutkan bahwa ada 40 ayat Al Qur'an yang membicarakan secara khusus tentang astronomi. Berikut ini terdapat beberapa fenomena astronomi yang terdapat di dalam Al Qur'an. Mungkin beberapa fenomena ini telah merupakan sesuatu yang tidak asing lagi bagi kita. Tapi ingat, Al Qur'an diturunkan 15 abad yang lalu, dimana manusia belum mengerti mengenai masalah astronomi secara implisit dan masih menganggap bahwa bumi merupakan pusat alam semesta (Geosentris). Fenomena astronomi secara implisit baru dipahami oleh masyarakat luas beberapa puluh tahun belakangan ini, dan itu jauh setelah Al Qur'an diturunkan.



Matahari dan bulan memiliki orbit

"Dan Dia telah menundukkan (pula) bagimu matahari dan bulan yang terus menerus beredar (dalam orbitnya), dan telah menundukkan begimu malam dan siang." (QS 14:33)

"Demi langit yang memiliki banyak orbit." (QS 51:11)



Benda-benda langit berasal dari nebula/kabut (Teori Nebula)

"Kemudian Dia menuju kepada penciptaan langit dan langit itu masih berupa kabut." (QS 41 : 11 )



Matahari dan bulan memiliki kala revolusi dan kala rotasi

"Dan matahari dan bulan beredar menurut perhitungan" (QS 55 : 5)

"Dialah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya dan ditetapkan-Nya manzilah-manzilah (tempat-tempat) bagi perjalanan bulan itu, supaya kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu). Allah tidak menciptakan yang demikian itu melainkan dengan hak. Dia menjelaskan tanda-tanda (kekuasaan-Nya) bagi orang-orang yang mengetahui." (QS 10:5)



Jumlah Planet

"(Ingatlah), ketika Yusuf berkata kepada ayahnya : "Wahai ayahku, sesungguhnya aku bermimpi melihat sebelas buah kaukab (planet), matahari, dan bulan, kulihat semuanya sujud kepadaku." (QS 12 :4)

Selama ini kita hanya mengenal sembilan buah planet dalam galaksi Bimasakti, yaitu Merkurius, Venus, Bumi, Mars, Jupiter, Saturnus, Uranus, Neptunus dan Pluto. Lalu bagaimana dengan pernyataan Al Qur'an bahwa jumlah planet itu? Apakah pernyataan itu keliru? Coba kita tengok penemuan terbaru dari riset yang dilakukan oleh para astronom di AS, bahwa ada suatu penemuan spektakuler tentang planet ke-10 di dalam galaksi Bimasakti. Bagi para ummat muslim, penemuan ini seharusnya bukanlah sesuatu yang spektakuler, karena Al Qur'an telah menyebutkan tentang fenomena ini 15 abad yang lampau. Lalu bagaimana dengan planet ke-11? Hanya dengan perjalanan waktulah hal tersebut akan terungkap. Maha benar Allah dengan segala firman-Nya.



Reproduksi Manusia

Masalah reproduksi manusia adalah salah satu fenomena biologis yang dibahas di dalam Al Qur'an. Fenomena ini dibahas secara lengakap dan lugas dalam penyampaiannya, termasuk tentang proses penciptaan manusia secara bertahap.

"Mengapa kamu tidak percaya akan kebesaran Allah? Padahal Dia sesungguhnya telah menciptakan kamu dalam beberapa tingkatan kejadian." (QS 71:114)

Manusia diciptakan dari setetes air (mani), yang bertemu dengan sel telur (ovum) dan mengalami fertilisasi.

"Dia telah menciptakan manusia dari mani, tiba-tiba ia menjadi pembantah yang nyata." (QS 16:4)

"Bukankah dia dahulu setetes mani yang ditumpahkan (ke dalam rahim)." (QS 75:37)

Selanjutnya di dalam rahim terjadilah tahap-tahap kejadian manusia secara embriologis.

"Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah. Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha Sucilah Allah, Pencipta Yang Paling Baik." (QS 23 : 12,13,14)

Demikianlah tahap-tahap perkembangan janin di dalam rahim menurut Al Quran dan fenomena perkembangan janin dalam rahim ini baru ditemukan oleh para ahli kedokteran pada sekitar awal abad 20 atau 14 abad semenjak Al Qur'an diturunkan.

Fenomena-fenomena sains yang memiliki hubungan yang harmonis dan sejalan dengan Al Qur'an di atas hanyalah segelintir dari fenomena sains lainnya yang terdapat di dalam Al Qur'an, baik yang sudah diketahui maupun yang belum diketahui. Tugas kitalah sebagai kaum intelektual muslim untuk mengkaji lebih jauh fenomena-fenomena sains yang terdapat di dalam Al Qur'an. Jangan biarkan apa yang telah diberikan Allah sebagai mukjizat kepada kita (Al Qur'an) menjadi sia-sia.

Di bulan suci Ramadhan yang penuh berkah ini, marilah kita memulai suatu langkah awal yang akan membawa warna baru dalam kemajuan sains dan teknologi demi tegaknya kembali kejayaan Islam yang pernah eksis 12 abad yang lampau. Hal ini dapat dimulai dengan membaca, mengerti dan mampu memahami tafsir Al Qur'an karena hanya dengan berpegang teguh kepada Al Qur'an dan Assunnah-lah kejayaan Islam akan mampu kembali tegak. Dengan meneguhkan azzam kita, semoga Allah menjadikan kita ke dalam golongan ulil albab. Amin.