Pertanian, Kedamaian, hingga Cinta

0

Ada lebih banyak pergolakan yang dimotori para buruh ketimbang para
petani. Oleh karenanya sebagian besar revolusi tidak berasal dari para
petani. Mungkin tidak ada yang lebih bisa bertahan dari tirani selama
ribuan terakhir ini daripada para petani. Dan mungkin kita berhutang lebih
banyak lagi dari para petani.

Tidak tahu persisnya kapan orang beralih dari pekerjaannya dalam berburu
untuk berubah menjadi individu yang asik berinteraksi dengan alam. Mungkin
dilihatnya belukar dan tetumbuhan di sekitarnya itu bisa dinikmati oleh
hewan-hewan liar. Boleh hidup pula mereka. Sebuah alasan yang logik
sehingga orang mahu mencoba. Berburu itu letih, berpeluh, kasar, luka,
berdarah, dan membunuh. Sedang mencobai tetumbuhan itu lebih banyak
kedamaiannya. Cara hidup yang baru, Mode kerja baru. Yang baru itu selalu
menarik sehingga menimbulkan pertanyaan lagi; kapan bermula kebudayaan
agrikultur itu? Ini budaya telah melahirkan kita semua. Termasuk generasi
kita, saya sendiri dari keluarga petani. Sedang budaya yang lain itu buah
tuai-tanamnya para petani.

Bagaimana orang mengenal budaya religi? Ada kaitannya dengan pertanian
pula agaknya. Epik gilgamesh dan beberapa epos separuh manusia-separuh
dewa rata-rata muncul setelah manusia mengenal agrikultur. Sebabnya, orang
yang bertanam itu harus selalu berkompromi dengan alam. Dia harus mengerti
bagaimana menumbuhkan tanamannya, artinya harus mengerti pengairannya.
Namun jika pengetahuan masih terbatas, maka dia harus mengerti iklim dan
cuaca. Kemudian disesuaikanlah musin tanam itu dengan musim cuaca. Tetapi
pengetahuan itu tidak serta-merta diddapatkan. Ada selang waktu lama
sebelum manusia memahami. Dan pada waktu itu, orang mengandalkan berkah
alam. Mereka yang tinggal di tepi sungai tentu lebih beruntung. Mulai
dikenal pula hewan-hewan yang produktif untuk mendukung kebudayaan mereka.
Maka dari itu mereka bersukur. Menengadah ke birunya langit dan menunduk
ke arah lumpur subur seraya berpikir bagaimana mereka harus membalas
keberkatan itu. maka dari lembah nil, muncul Isis. ibu yang memberikan
mereka kehidupan. Disembah dan dipuja dengan semakin rumit sehingga
terbentuk sistem religi. Ini tidak terjadi dalam peristiwa tunggal,
melainkan serentak di setiap peradaban yang mengenal agrikultur.

Kalau orang telah bercocok tanam, kemudian panen, maka jika beruntung ada
sisa dari hasil itu untuk disimpan. Simpan menyimpan itu hakikatnya adalah
menumpuk kekayaan. Dan jika sudah ada ukuran kekayaan, perasaan iri bisa
muncul. Iri melahirkan kejahatan. Dalam keyakinan lain, tindakan kriminal
pertama juga terkait dengan persembahan ternak dan pertanian dari abel dan
saudaranya. Maka dari itu harus dijaga, sehingga periode damai tanpa darah
dan senjata daripada pertanian itu diakhiri dengan penggunaan senjata lagi
untuk menjaga dan mengumpulkan kekayaan. Pada perkembangannya, orang juga
tidak boleh tiba-tiba ditikam dari belakang, lalu muncul jenis
perlindungan lainnya. Hingga berproses perlindungan-perlindungan itu
selama ribuan tahun lamanya sampai diketemukan oleh manusia sebuah lembaga
yang mereka namakan sebagai negara. Kesimpulannya, kebudayaan pertanian
itu lah rahim daripada negara.

Lalu, jika pertanyaannya mengapa dunia penuh dengan kekerasan dan genangan
darah itu dipantulkan ke langit, memerah? Tidak lagi berkaitan dengan
kedamaian budaya bertani karena pertanian masih tetap hidup dalam
kedamaiannya sendiri. Sedang persaingan antar keyakinan, tamak kekayaan,
dan negara-negara lah pelakunya. Tiga turunan budaya pertanian memenuhi
bumi dengan permusuhan. Dan akhirnya meninggalkan para petani sebagai
cibiran, sebagai manusia rendah dengan kehidupan yang miskin,
terpinggirkan dari kota, dan tidak lagi diingat jasanya.

Buktinya para petani tidak pernah bereaksi. Karena mereka cinta tanah,
mereka cinta langit, dan cinta sesama. Jikalau ada pergerakan itu adalah
mobilisasi para politisi yang hendak mempergunakan kepentingan para petani
untuk mencapai cita-cita politiknya. Mana ada petani yang rela
meninggalkan kesayangannya bertanam untuk digantikan dengan kekacauan?

Hidup dengan bertani itu juga sebagai sarana untuk membatasi diri dari
ketamakan. Karena ninik mamak kita yang bercocok tanam memenuhi
kebutuhannya sendiri dengan tidak berharap banyak kecuali tanah-air dan
perdamaian. Suasana nya dijaga tetap harmonis, dan ritme hidupnya sesuai
dengan alamnya; pelan bersabar, terlebih menunggu musim berganti, menunggu
panen pun dengan kesabaran. Begitu cintanya akan tanah-air (dua elemen
penting untuk menumbuhkan tanaman), disebutnya bumi ini ibu pertiwi.
Karena bumi juga asih pada mereka, sedang yang paling asih itu adalah
seorang ibu. Yang lembut dan memeluk. Oleh karenanya jika hendak
menjadikan suatu masyarakat penuh damai, ada baiknya menjadikan lebih
banyak lahan pertanian. Pemerintahan Federal Amerika menyadari budaya
damai para petani itu. Jadi saat suku Apache sulit untuk dikendalikan,
mereka meminta Geronimo dan Apache lainnya untuk bercocok tanam saja demi
kedamaian bersama.

Dengan bumi itu akan selalu terasa hangat seperti dengan ibu sendiri.
Seperti kehangatan yang kita rasakan saat merebahkan diri di tanah,
merayap memeluk bumi. Orang jawa yang bercocok tanam itu punya negara.
Maka negara itu disebut pula dengan nama Mataram (baik Mataram Kuno mau
pun Mataram Islam). Sanskrit dari rumpun indo eropa, Mataram adalah Mater,
die műter di Germania atau mother di Anglia. Ibu kita harus dibela dari
hal-hal yang merusak kedamaian. Maka di Jogjakarta ada Siti Hinggil,
dihormati tanah itu harus ditempat yang tinggi dengan segala sikap
feminisnya. Kalau kepercayaan Mesir ada bersama Isis, maka kita kenal Dewi
Sri di sini. Dan harus seorang Ibu, karena Bapa acap kali bertindak keras.

Tidak ada cinta selain melalui kedamaian hati. Bila sudah damai, cinta
sesama itu semakin mudah dilakukan. Dan jika lebih mengerti lagi mengapa
kita saling menyakiti hanya karena keyakinan, ketamakan, mau pun karena
negara maka kita akan lebih mengerti bagaimana kita bisa merubah semuanya.
Tidak mudah memang tapi pernah dicoba. Sebetulnya mereka mau saja bertahan
hidup dalam tirani. Seperti yang dilakukan para petani di Chiapas.
Bukankah mereka telah hidup damai meski ditindas oleh pemerintahan PRI
Mexico? Tapi apa hendak dikata. Politisi selalu saja memainkan semua yang
menarik. Saat Carlos Salinas mengamandemen pasal 27 dalam UUD 1917 Mexico
yang menjamin keberadaan ejido atau tanah komunal masyarakat adat yang
tidak bisa diganggu gugat, campesinos (petani tradisional) bergerak dalam
mobilisasi Zapatista.

Kini petani dengan keyakinan dan ketamakan dan negara telah melebur dalam
kekerasan satu sama lainnya. Dengan menghela nafas, saya hanya berpikir
mungkin Zapatista lupa akan karakter para petani sesunggunya yang bisa
hidup damai dalam penindasan. Karena dengan cinta semuanya terlihat indah.
Tanpa cinta, kita melihat kehidupan lain sebagai keindahan. Padahal
sejatinya keindahan itu ada dalam diri sendiri, tidak perlu dicari lagi.
"keindahan adalah kehidupan itu sendiri - saat membuka tabir penutup
wajahnya. Dan kalian sejatinya adalah kehidupan itu, kalianlah cadar itu.
Keindahan adalah keabadian yang termangu di depan cermin. Dan kalian
sejatinya adalah keabadian itu, kalianlah cermin itu." Hanya kita tidak
menyadari.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar